Tutup Iklan
JusKulitManggis
Tetanus Memang Mematikan, Namun bisa Dicegah Dengan Cara Ini

Tetanus Memang Mematikan, Namun bisa Dicegah Dengan Cara Ini

Maman Soleman
6 Des 2017
Dibaca : 60x

Jangan sepelekan tetanus. Penyakit yang disebabkan bakteri Clostridium tetani ini bisa menjangkit kapan saja lewat luka sekecil apa pun. Gejalanya kejang otot, dimulai dari kaku rahang yang berlanjut kaku di seluruh tubuh. Kematian acap kali disebabkan oleh gagal napas dan gagal jantung.

Bakteri C tetani, demikian situs web Centre for Disease Control and Prevention (CDC), AS, merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat anaerob. Bakteri ini sensitif terhadap panas dan oksigen. Tapi, dalam bentuk spora tahan panas tinggi. Spora dormant (tidak aktif) di tanah lebih dari 40 tahun tetap mampu menginfeksi.

Spora C tetani tersebar luas di seluruh dunia. Terdapat pada debu, tanah, dalam usus dan tinja kuda, kambing, biri-biri, anjing, kucing, tikus, dan ayam. Karenanya, tanah yang diberi bupuk kandang bisa mengandung jutaan spora bakteri ini.

Infeksi terjadi jika bakteri masuk lewat luka potong maupun luka tusuk. Kadangkala hanya luka kecil yang tak terpikirkan untuk dibawa ke dokter. Namun, hal itu cukup bagi bakteri untuk berkembang biak. Jenis luka lain yang bisa menyebabkan terserang tetanus adalah luka bakar, frostbite (radang dingin), dan aborsi.

Saat masuk tubuh, demikian penjelasan pada Yahoo!Health, spora berkecambah melepaskan bakteri aktif yang memproduksi racun terhadap saraf (neuro-toksin) yang dikenal sebagai tetanospasmin. Racun ini menghambat transrnisi dari saraf tulang belakang ke otot. Akibatnya, otot menjadi kejang. Kekejangan ini bisa sangat kuat sampai merobek jaringan otot bahkan menyebabkan patah tulang belakang.

Masa inkubasi berlangsung antara tiga sampai 21 hari. Gejala umumnya tampak pada hari ke delapan. Makin jauh luka dari sistem saraf pusat, makin lama masa inkubasi.

Pada tetanus neonatal (bayi baru lahir) gejala biasanya muncul pada 4-14 hari. Penyebabnya, pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril. Kematian akibat tetanus ini diperkirakan lebih dari 270.000/ tahun di seluruh dunia, utamanya di negara berkembang.

Tetanus mulai dengan kejang ringan pada otot rahang, leher, dan muka. Kemudian kekakuan menjalar ke dada, punggung, otot perut serta otot laring, sehingga pernapasan terganggu. Gejala sering disertai keringat berlebihan, kesulitan menelan, keluar air liur tak terkontrol demikian pula dengan berkemih dan buang air besar. Komplikasi yang dapat timbul selain gagal napas adalah gagal jantung, pneumonia, dan patah tulang.

Tanpa perawatan memadai satu dari tiga penderita akan meninggal dunia. Angka kematian pada tetanus neonatal lebih tinggi, yakni dua dari tiga penderita. Namun, dengan penanganan cepat dan tepat hanya 10 persen pasien yang tak bisa diselamatkan.

Pencegahan

Imunisasi, demikian National Foundation for Infectious Diseases, merupakan pencegahan yang paling ampuh.

Vaksin tetanus toksoid dikembangkan oleh Descombey tahun 1924. Pada bayi imunisasi dilakukan dengan tiga kali suntikan DPT (difteri, pertusis, tetanus). Selewat balita suntikan pendukung diberikan setiap 10 tahun dengan vaksin Td (tetanus, difteri). Bagi mereka yang belum diimunisasi, disarankan meminta ke dokter atau segera disuntik antitetanus jika luka.

Pengobatan tetanus bisa dengan antibiotik seperti penisilin, klindamisin, eritromisin, atau metronidazol. Sebelumnya penderita bisa diberi antiracun, tetanus immune globulin. Luka dibersihkan dari kotoran sumber racun. Gejala tetanus ditangani dengan terapi pendukung. Kejang otot diobati dengan penenang otot dan pernapasan yang terganggu dengan oksigen.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2017 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2017 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
SabunPemutih