Tutup Iklan
Tryout.id
Ternyata Ini Cara Kerja Otak Ketika Kita Ragu...

Ternyata Ini Cara Kerja Otak Ketika Kita Ragu...

Dika Mustika
15 Maret 2018
Dibaca : 86x

Pernahkah kalian merasa atau melihat ada seseorang yang demotivasi, frustasi, putus asa, dan merasa tak ada harapan hidup. Jika pernah mengalami atau masih mengalaminya siapapun itu, saatnya untuk ‘berbenah’ otak! Mengapa otak? Yuk kita coba pahami cara kerja otak untuk hal yang satu ini. Cara kerja otak ketika kita merasa tidak percaya atau ragu akan sesuatu. Mengapa perlu segera bertindak? Karena keraguan bisa menuju terjadinya demotivasi, hingga akhirnya seseorang menjadi depresi. Jika seseorang mengalami depresi ada banyak hal yang tidak diinginkan yang bisa diakibatkannya.

Ada sebuah kata bijak, “Ketika engkau berdoa, yakinlah bahwa Tuhan akan mengabulkan doa-doamu, seyakin bahwa matahari akan terbit di sebelah timur esok pagi.” Ya, keyakinan yang paling utama adalah keyakinan bahwa Tuhan sangat sayang pada hambanya. Keyakinan bahwa semua doa kita didengar-Nya. Ada banyak hal yang bisa menjadi alasan mengapa seseorang merasa ragu, merasa tidak yakin, bahkan akan doa-doa yang dipanjatkan pada Tuhan. Ternyata hal ini dipengaruhi juga oleh penggunaan otak kita ketika berpikir. Dalam otak, ada bagian otak emosinal dan otak retikular. Otak emosional adalah otak yang berfungsi mengamankan diri. Mengamankan diri dari berbagai kejadian tidak menyenangkan yang terjadi di masa lalu. Otak ini terkoneksi ke masa lalu dan otak inilah yang menyebabkan seseorang kesulitan untuk move on ke masa depan. Kenangan-kenangan melekat kuat lengkap dengan emosinya pada momen tertentu. Dan otak ini memberikan perlindungan yang kuat agar peristiwa tidak menyenangkan ini tidak terjadi lagi di masa kini. Hal ini lah yang mengeneralisasi bahwa segala hal tidak menyenangkan dari masa lalu bisa terulang lagi di masa kini. Karena itu, otak memerintahkan diri untuk tetap saja pada kebiasaan lama yang aman untuk diri. Otak emosional ini seakan memerintahkan pada otak untuk tidak gampang percaya pada kebiasaan baru (baca: move on). Otak emosional ini lah yang salah satunya memberikan rasa ragu dalam diri.

 

Nah, dalam hidup kita tidak mungkin melihat ke belakang terus bukan? Hidup itu jalan maju ke depan, bukan jalan mundur. Agar kita bisa maju, tentunya kita harus fokus pada tujuan hidup kita. Ada kemampuan otak kiri dan kanan yang keduanya membentuk korteks selebral. Otak korteks ini lah yang bersifat fleksibel karena ia memiliki berbagai gambaran, namun gambaran ini bagaikan tidak terjadi pada dirinya (disosiatif). Ketika hal ini terjadi maka emosi kita pun akan lebih menurun. Ketika kita sedang tidak dikuasai oleh emosi inilah, kita berada dalam kondisi dapat berpikir jernih. Dalam kondisi ini lah seseorang bisa memutuskan visi apa ke depan yang terbaik untuk dirinya.

 

Ketika kita merasa ragu, cobalah untuk berpikir secara disosiatif (melepaskan diri dari emosi), bayangkan jika keraguan tersebut dialami oleh orang lain. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya? Apakah kita harus lebih banyak memberi ‘asupan’ pada jiwa dengan datang ke pengajian untuk yang muslim, atau kita perlu membaca buku motivasi, atau kita perlu berdiskusi dengan orangtua, atau kita perlu konsultasi dengan psikolog, dll. Sedangkan ketika misal ada teman yang sedang curhat, jadilah pendengar yang baik dan berpikirlah secara asosiatif (mencoba memahami emosinya). Jadi, ketika kita merasa ragu, sudah terbayang bagian otak yang mana yang sedang bekerja? Kemudian apa yang perlu kita lakukan untuk atasinya? Atasilah ragu-ragu tersebut. Karena keraguan hanya membatasi kejaiban-keajaiban dalam hidup. Keraguan juga bisa membunuh mimpi dari pada kegagalannya itu sendiri! Yuk, latih otak kita untuk percaya pada masa depan, percaya pada kasih sayang Tuhan! Karena otak kita percaya pada apa yang kita ceritakan.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2018 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2018 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
ObatDiabetes