Diferensiasi Pengabdi umat antara Guru dan Kiai

Diferensiasi Pengabdi umat antara Guru dan Kiai

Zeal
10 Feb 2018
Dibaca : 531x

Dari sejarah pengalaman hidup saya, Kiai dan guru adalah sosok yang memberikan ketauladanan. Pun demikian, dikalangan santri ataupun pelajar, sosok Kiai ataupun Guru adalah mustahil untuk dinafikan. Saya adalah orang yang berkesempatan menjadi musafir yang diteduhi oleh peneduh diantara dua pengabdi umat, tegasnya Kiai dan Guru. Mengenal sosok Kiai di lembaga pesantren dengan kekhasannya, serta guru di jenjang pendidikan formal. Bagi saya tidak ada dikotomi khas untuk membedakan keduanya. Saya menjadi median, melihat sisi baik dari kedua pengabdi umat ini.

Kiai adalah sebutan khas para santri kepada pimpinan pesantren, atau dewan pesantren yang mengajar di pondok. Sedangkan guru adalah sebutan bagi para siswa terhadap sosok yang sedia kala mengajarkan ilmu pengetahuan di sekolah. Dalam aspek penamaan memiliki kekhas-an tersendiri. Di Indonesia beragam penamaan sosok Kiai bervariasi, di Jawa Kiai adalah penamaan yang lazim, sedangkan di sunda penamaan yang lazim  bagi Kiai adalah Ajengan, pun di Sumatera ada yang menyebut Kiai sebagai Buya. Relasinya antara Kiai dan Guru dalam pandangan ‘dedikasi’ memiliki perbedaan tersendiri. Tanpa menyudutkan keduanya, dalam perspektif saya tentang Kiai dan Guru pada dasarnya mengabdi, namun perbedaan muncul atas dasar pijakan apa pengabdi umat ini mengabdi ?

Kiai adalah sosok yang disegani umat karena keta’diman ilmu yang dimilikinya. Di zaman sekarang ini agaknya eksistensi Kiai-Kiai masih sama seperti dahulu, yang mengajar di pondok-pondok dengan tanpa pamrih, kalaupun ada biaya untuk masuk itu pun dikelola oleh dewan pesantren yang ujungnya untuk kehidupan santri pula. Kiai dengan kesederhanaannya, keluhuran ilmunya dan didasari ketawadhuan, demikian itu adalah modal pengabdian bagi Kiai.

Lantas bagaiamana dengan guru? ‘Guru tanpa tanda Jasa’ masih realible kah slogan tersebut? Di zaman sekarang banyak pengaruh serta motif yang menggeser tujuan utama dengan aspek ‘kebutuhan’. Sisi benefit bagi guru yang berbeda dengan Kiai adalah adanya pemerhati penuh pemerintah terhadap guru sebagai profesi. Lantas apakah bertentangan antara pengabdian dan profesi yang mengatasnamakan guru? Guru pada dasarnya adalah mengabdi, sedangkan dalam sisi lain guru adalah sebuah profesi, karena sebagaimana kebijakan pemerintah bahwa 20% anggaran pendidikan yang sebagiannya untuk membayar tunjangan profesi, yang kerap dikenal dengan sertifikasi. Setiap bulannya pun, slip gaji diatas kwitansi adalah hak guru atas jasanya mengajar, dan timbal balik juangnya ketika menjadi mahasiswa dalam menempuh pendidikan tinggi. Tidak menjadi permasalahan namun hal ini relatif, bagi sebagian kecil guru mungkin profesi adalah domain utama visionernya, berorientasi pada keuntungan, tentang umpan balik yang diterimanya. Sedangkan sebagiannya lagi  masih banyak guru yang berhati Kiai, pengabdian tanpa pamri menjadi visioner dalam mengajarnya. Tidak menjadikan nominal sebagai tujuan utamanya. Jelas guru berhati Kiai ini adalah guru yang patut di teladani, tugsnya mencerdaskan murid, serta umat di bumi ini.

Bagi pemerintah pun, menjadi fokus menarik apabila  mampu memberikan perhatian penuh pada pengabdi umat ini dalam visinya mencerdaskan kehidupan bangsa. Lebih menganggukan jasa pengabdi umat, sebagai apresiasi terkecil bagi mereka. Dan teruntuk para murid, akankah lebih mumpuni apabila menjadi bagian penuh statusnya sebagai pelajar dan santri supaya menjadi individu yang cendikiawan dan religius. Serta menjadi estafeta perjuangan ulama dan guru, mengabdi dengan hati dan menjadi pahlawan yang sebenarnya.

Yuni Heryanti

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Terpopuler
Polling
Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019-20124
Foto Selebriti
#Tagar
Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2020 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2020 GueBanget.com
All rights reserved