Tutup Iklan
ObatKolesterol
Logika dan Keyakinan dalam Islam

Logika dan Keyakinan dalam Islam

Dika Mustika
16 Jan 2018
Dibaca : 290x

 

Beberapa waktu yang lalu, saya mendatangi sebuah kajian. Tema kajian tersebut adalah mengenai indahnya berhijrah. Dalam hidup ada banyak momen di mana seseorang melakukan hijrah. Kata ‘hijrah’ berasal dari bahasa Arab yang bermakna berpindah dari satu negeri ke negeri lainnya. Hijrah sendiri berawal dari makna berpindahnya Nabi Muhammad dan pengikutnya dari Mekkah ke Madinah kala itu.

 

Ok, kita kembali lagi ke hijrah zaman now. Dalam hidup. Ada berbagai momen ketika seseorang melakukan hijrah ini. Ketika misalnya, kita berhenti merokok. Yang asalnya perokok hijrah menjadi seorang yang tidak merokok. Hijrah bisa juga misalnya menabung di bank konvensional dan berpindah ke bank syariah. Sebelum seseorang melakukan hujrah, pasti ada proses taubat terlebih dahulu. Proses ketika seseorang merasa ada yang tidak beres nih dengan sesuatu yang dilakukannya, proses seseorang akhirnya meminta maaf atas ‘ketidakberesannya’ kepada Allah. Salah satu indikator yang menunjukkan kesungguhan taubat seseorang adalah, ketika seseorang benci atas perbuatan yang pernah dilakukan sebelumnya. Jika ia benci, maka taubatnya berarti memang sungguh-sungguh.

 

Nah setelah taubat, seseorang akan berhijrah dari satu kondisi keimanan ke kondisi keimanan yang tentunya lebih baik. Kondisi berhijrah ini tak selamanya mudah ternyata. Akan ada banyak godaan yang jika kita belum kuat tekadnya, mungkin kita dapat tergoda lagi untuk kembali pada kondisi semula. Nah ketika godaan ini datang, ingatlah bahwa besarnya pengorbanan kita untuk berhijrah pasti terganti. Terganti dengan yang paling baik untuk kita. Hidup ini singkat. Sangat disayangkan jika kita tidak menggunakan waktu kita dengan bijaksana. Jangan khawatir jika kita meninggalkan sesuatu kerena Allah. Yakin deh atas janji-Nya. Seperti yang tertulis dalam QS Ath-Thalaq : 2-3:

“ ... Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."

 

Ayat di atas mengingatkan saya akan sebuah kisah yang pernah diceritakan oleh teman saya,  kala itu ia sedang naik angkot hendak pergi ke kantor. Nah, awal naik angkot ia tak punya firasat apa-apa. Namun, ketika hendak turun dan harus membayar angkot, sadarlah ia jika dompetnya tertinggal di rumah. Paniklah ia dan dengan memberanikan diri, ia hendak meminjam uang pada penumpang yang ada di sampingnya. Ia jelaskan jika dompetnya tertinggal. Ia juga kemudian minta nomor rekening penumpang itu agar ia bisa segera mentrasfer uangnya secepatnya. Temanku sempat merasa oesimis karena kala itu memang sedang marak penipuan di angkot bermodus macam-macam. Bismillah ...ia pun mencoba, ternyata penumpang tersebut mau memberikan uangnya tanpa minta diganti. Ia menolak memberikan nomor rekening. Rezeki akan dibayari ongkos angkot sangatlah tak bisa diprediksi oleh logika. Siapa orang asing itu? Mengapa ia mau membayari teman saya? Namun hal ini bertumbuh dari kepercayaan kita pada-Nya. Hal tersebut dilatarbelakangi cinta, cinta dari penumpang yang hendak menolong teman saya. Dan hati penumpang tersebut yang menggerakkan adalah Dia! Terbayang betapa Dia tunjukkan cintaNya dengen berbagai cara yang mungkin di luar logika kita. Intinya, percayalah! Hal baik akan berbuah baik pula.

 

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2018 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2018 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
SabunPemutih