Profil Ideal Anak Muda Abad ke-21

Profil Ideal Anak Muda Abad ke-21

Zeal
30 Okt 2017
Dibaca : 1095x

Oleh:
Fitri Rahayu
Mahasiswa Universitas Siliwangi

BEBERAPA hari lalu, Indonesia memperingati hari Sumpah Pemuda. Yup, setiap tanggal 28 Oktober biasa diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda. Kenapa tidak Sumpah Orangtua, ya? Hehe. Sebenarnya, orangtua pun bisa disebut pemuda jika dalam jiwanya masih memiliki semangat seperti anak muda beneran. Tapi, idealnya memang mereka yang berumur mulai dari 19 tahun sampai akhir 20 tahun, biasa disebut pemuda. Karena, umur yang dimiliki masih memiliki tenanga yang mumpuni, serta bisa menghasilkan ide-ide luar biasa, terlebih bercita-cita demi perubahan bagi dirinya dan orang sekitar. Ya, idealnya seperti itu.

Hm, benarkah semua pemuda seperti itu? Jika dilihat di televisi, pemuda identik dengan kisah asmara, sering kali identik dengan kata, ‘pacaran’. Selain itu, banyak kasus mereka sibuk dengan dunianya sendiri. Tak jarang, mereka juga terjerat hal negatif seperti narkoba, hura-hura, dan lainnya. Apa pemuda macam itu perlu diberi reward lewat peringatan Sumpah Pemuda? Aduh. Memang, sih, di umur-umur segitu pemuda memang sedang waktunya mencari jati diri dan senang akan dunianya yang mulai beranjak dewasa. Namun, alangkah lebih baik jika fokus yang pemuda miliki bukan melulu soal cinta, games, dan sebagainya, arahkan ke hal yang lebih bermanfaat yang bisa mengubah dirinya dan lingkungan sekitar. Bukankah pemuda itu agent of change dan iron stock?    

Berbicara mengenai pemuda hijrah, bukan berarti artikel ini akan membahas komunitas tersebut, tetapi ingin mengajak para pemuda yang belum berhijrah untuk hijrah dari sekarang, dan kepada yang sudah berhijrah agar terus melakukan track-nya menebar manfaat ke banyak orang. Well, untuk menjadi pemuda hijrah, para pemuda sejatinya perlu menjadi pemuda beriman terlebih dahulu. Wah apa lagi tuh?

Pemuda beriman artinya mereka yang mengenal Allah sebagai Tuhannya, dan Muhammad sebagai rasul-Nya. Setelah itu, lakukan yang makruf dan jauhi yang mungkar. Hal ini bisa dilakukan pemuda secara bersama-sama dengan mencari partner positif yang jika melihat wajahnya mengingatkan akan akhirat. Wah. Hehe. Pilih lingkungan positif, jauhi yang sekiranya menghambat misi.

Well, selain menjadi pemuda beriman di abad 21 ini, ada tiga karakteristik yang harus diketahui agar mampu survive dan tidak gampang galau. Hehe. Yuk, simak ulasan berikut ini!

Memiliki semangat belajar sepanjang hayat (Long Life Learning)

Menjadi pemuda berarti harus memiliki pengetahuan yang luas atau open minded. Kerjar ilmu sampai liang lahat. Semangat belajar di sini meliputi semangat membaca dan menulis. Membaca adalah amunisi agar seseorang mampu berpikir kritis dan memiliki wawasan yang luas, serba tahu meski sedikit. Sementara, menulis adalah cara untuk memahamkan diri sendiri agar semua pengetahuan yang ada dapat terkonsep, bermanfaat dan bisa disebarluaskan, sampai akhirnya memahamkan orang lain lewat kata-kata yang ditulis.

Pada tahun 1966, seorang sastrawan kebanggaan Indonesia, Taufik Ismail, membuat puisi berjudul, “Aku Malu Menjadi Bangsa Indonesia”. Duh, ngeri. Di tahun itu, tingkat minta baca dan tulis pemuda Indonesia turun. Ia kecewa dengan pemuda Indonesia, sampai berani bilang malu menjadi bangsa ini. Wah, jangan sampai di abad 21 ini banyak warga Indonsia yang malu bahkan sampai berpikir untuk pindah kewarganeagaraan karena pemudanya yang enggan membaca dan menulis. Ayolah, berubah. Berubaaah. Jangan biarkan bangsa ini menangis. Membaca dan menulis sampai mati!

Memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, dan emosional

Pertama, kecerdasan intelektual/IQ (Intelligence Quotient). Pemuda harus bisa menjadi problem solver, bukan sekedar problem speaker apalagi problem maker. Lewat kecerdasan intelektual, kasus-kasus yang ada dapat pemuda usahakan untuk memiliki jalan keluar. Tidak ada ilmu yang sia-sia, semuanya akan berguna untuk sesuatu.

Kedua, kecerdasan spiritual/SQ (Spiritual Quotient). Inilah yang dimaksud dengan karakter seorang pemuda. Di samping intelektualnya bagus, ia juga harus memiliki karakteristik yang menjadi landasannya bergerak, ia paham akan aturan-aturan yang harus dilaksanakan sesuai porsi yang ada pada agama masing-masing. Ini akan membantunya dalam mengontrol diri dan menjaga orang lain.

Ketiga, kecerdasan emosional/EQ (Emotional Quotient). Pemuda tentu saja hidup dengan beragam masyarakat lain yang di dalamnya ada anak-anak dan orang tua. Seringkali, gagasan-gagasan mereka tidak selaras, bukan karena gagasannya yang salah, melainkan bahwa pemuda tidak selamanya benar. Pemuda perlu diluruskan dan harus menerima masukkan. Maka, di sini pemuda memerlukan kecerdasan emosional agar saling memahami, sopan dan santun kepada siapapun, pun pemuda dituntut untuk memiliki nilai etik yang tinggi. 

Memiliki visi yang sukses bersama

Pemuda bisa sukses jika memiliki nasib yang sama, karenanya visi dibutuhkan untuk menyatukan suara agar misi yang dilaksanakan searah dan jelas tujuannya. Jika tidak satu nasib, segalanya akan susah. Saat beberapa hal ketimpang di sana-sini, hal tersebut akan membuat pemuda berlawanan, mengingat emosinya yang belum sematang orang tua. Maka, diperlukan persamaan visi dengan cara bermusyawarah ketika merumuskan sesuatu demi bangsa yang lebih baik.

Ketiga hal di atas adalah profil yang harus dimiliki pemuda abad 21 ini. Mari, kita bangun bangsa bersama, yang menatap jauh ke depan. Karena, apa yang sudah kau beri untuk bangsa?

“Pemuda itu berlandas iman dan taqwa, bila keduanya tak ada, maka keberadaannya dianggap tidak ada.” (Imam Syafi’i).

 

                       

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2019 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2019 GueBanget.com
All rights reserved