Tutup Iklan
MagicBra
Yaa Rabb, Ternyata ...

Yaa Rabb, Ternyata ...

Zeal
31 Okt 2017
Dibaca : 60x

Oleh:
Hanis Ningrum

Semburat mentari yang mulai menyinari bumi yang sinarnya terpantul dikaca kamar sekarang aku berdiam. Allah Maha Tahu dan Maha Mengerti apa yang dirasakan setiap hati seseorang hamba nya yang kering karena jauh dengan kedua orang tuanya.

Tepatnya 1 tahun 2 bulan 24 hari aku mengisi hari-harinya didunia perkuliahan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, masuk ke fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. Karena sejatinya sejak awal lulus dari sekolah menengah cita-citaku teramat besar untuk menjadi polisi wanita. hanya saja kondisi tertentu menyebabkanku untuk menelan jauh-jauh cita-cita itu.

Aku mengenalnya dan memanggilnya dengan sebutan kakak, karena memang jarak diantara Aku dengannya cukuplah jauh kira-kira 3 tahun lebih tua dariku. Pertamakali mengenalnya karena kebutulan kami satu organisasi di eksternal kampus. kampusku dan kampus ka agung juga berbeda, walaupun berbeda Aku masuk ke organisasi tersebut pada waktu yang sama dengannya. Hanya karena sebuah buku Aku tak menyangka jika Aku dengan Kak Agung bisa mengenalnya satu sama lain. Aku pun tau bahwa sesama laki-laki dan perempuan harus ada jarak karena sejatinya islam pun mengajarkan begitu. Dan sebagai seorang wanita akupun harus bisa menjaga kehormatanku.

Pertemananku dengan Kak Agung kukira masih dalam batas yang wajar karena kami tidak pernah berjalan-jalan berdua ataupun mengirim pesan yang dikira tidak penting. Kak Agung pernah cerita dulu saat beberapa bulan yang lalu, ketika dia menyukai seseorang dia akan berdoa untuknya. Aku kira seorang wanita juga bolehkan berdoa untuk sesorang yang disukainya, dan akupun mengikutinya. Mungkin sebenarnya umurku belum cukup untuk memikirkan hal seperti itu tapi bagiku selama hanya masih dalam doa saja, mungkin tidak apa-apa. Karena belum tentu yang kuminta itu kelak menjadi jodohku nanti. Ahem.

Waktu terus berjalan, lambat laun masa studiku sudah hampir habis karena sekarang aku sudah praktik lapangan di sekolah dan itu artinya aku sudah tingkat empat. Rasanya baru kemaren masuk kampus dan mengikuti segala organisasi di internal kampus maupun eksternal kampus. akan tetapi rasa bahagia itu selalu datang disela-sela kesedihan karena artinya aku akan segera pulang menuju kampung halamanku. Pekalongan, Jawa tengah aku tinggal dan dibesarkan ditempat itu siapa yang mau meninggalkan lama-lama kota yang penuh dengan kenangan itu pahit manisnya hidup Aku rasakan ditempat itu bersama dengan keluargaku.

Menjadi seorang pengajar ternyata tak semudah yang kubayangkan ketika tingkat satu dulu, karena sekarang aku alami betul menjadi seorang guru itu di sekolah. Bagaimana mengondisikan kelas, bagaimana menyampaikan materi pada siswa, dan bagaimana aku dapat membaur diantara mereka. Apalagi jika salah satu siswaku suka bertanya aplikatif dari apa yang kuterangkan padanya. Hal itu membuatku harus tetap belajar serta banyak membaca-baca buku ilmu pengetahuan. Hari demi hari semangatku mengajar mulai tumbuh dan penyesalan awal ketika masuk ke fakultas keguruan mulai luntur, itu karena menjadi guru itu menyenangkan. Apalagi ketika mereka memanggilku dengan sebutan ibu dan menyalamiku serta menghormatiku.

Menjadi guru biologi menurutku menyenangkan karena aku dapat menceritakan tentang hal-hal yang ada dalam tubuh kita serta alam, sehingga membuat murid-muridku menjadi penasaran dan rasa ingin tahunya tinggi.

Kuceritakan sedikit tentang Kak Fahmi, kakak tingkatku dulu dijurusan biologi. Kami sama-sama mengikuti organisasi intra kampus. Aku dan Kak Fahmi sama di departemen di organisasi ku. Dulu aku pernah berdoa untuknya karena jujur Kak Fahmi adalah orang yang sholeh, pintar, dan menjaga jarak antara laki-laki dan perempuan dan itulah yang mebuat aku suka dengannya. Hanya sebatas suka yang tak pernah terungkap, karena hanya aku dan Allah yang tahu. Aku tak menyangka jika sekarang dia mengajar di sekolah dimana sekarang aku praktik lapangan. SMA N 2 Ciamis, tempat dimana dia tinggal. Kak Fahmi  memberikan teka-teki baru bagiku dan langkahku mencari jati diriku, sama seperti dulu ternyata sikap Kak Fahmi tak jauh beda. Sikap dinginya pada perempuan masih terlihat jelas ketika berbaur dengan guru-guru yang lain. Namun, sekarang  Kak Fahmi suka menyapaku dan memberikanku masukan tentang pembelajaran yang harus Aku berikan pada murid-muridku.

Aku tak pernah berharap rasa itu kembali padaku, setelah hampir dua tahun tidak bertemu dengannya. Tapi, apakah ini yang dinamakan dengan takdir itu. Hari-hari menjelang akhir praktik lapangan membuatku semangat. Selain cerita mengenai pelajaran, Kak Fahmi sering menanyakan perkembangan organisasi kita dulu dikampus sekarang. Walaupun sikap dinginya sering kulihat ketika dengan guru-guru yang lain tetapi berbeda denganku. Sikap dingin pada adik tingkat yang dulu kuliahat tak pernah kulihat sekarang. Rasa yang dulu ada dan hampir gugur, sekarang tersiram bak bunga yang terkena hujan tadi malam.

Hingga akhirnya aku menyadari bahwa apa yang aku inginkan dan aku doakan tak selamanya selalu aku dapatkan. Hari itu tepatnya hari perpisahanku dengan murid-murid di SMAN 2 Ciamis. Rasa pilu serta sedih kini kurasakan dengan teman-teman praktik lapangan yang lainya karena tiga bulan lamanya kita bersama dengan mereka, tak jarang siswa-siswi menangis diacara perpisahan kami. Bak jatuh terimpa tangga pula, hari ini ka fahmi memberiku sepucuk surat undangan pernikahan kepadaku tertera jelas nama untukku Andini Putri Hapsari. Didalam surat itu juga tertera namanya Muhammad Fahmi Rahman Fauzi S.Pd, tersadar dengan nama itu Aku mulai menutup rapat-rapat surat undangan itu rasanya harapan yang mulai tumbuh kini bagaikan kejadian Osmosis didalam sel, pecah tak bermakna. Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari mulutku setelah kuterima langsung surat undangan itu dari ka fahmi. Setelah mendapatkan surat itu tadi ketika disekolahan aku tak memberikan diriku ini untuk menemuinya kembali saat itu.

Malam itu aku dan kawan-kawanku satu kelompok praktik lapangan mulai pulang rombongan ke Tasikmalaya, untuk melanjutkan masa studiku serta menyelesaikan skripsiku. Rasa sakit dan kecewa masih kurasakan hingga pada akhirnya akupun tidak menyempatkan datang diacara pernikahan Kak Fahmi.

Beberapa bulan berlalu Aku pun mulai menyadari dan mengikhlaskan hal itu terjadi, bahwasanya ketika kita terlalu berharap pada manusia maka ujungnya akan kecewa. Maka kuserahrahkan segala nya pada NYA, karena aku yakin semuanya atas kehendak-Nya dan sudah digariskan oleh-Nya pula. Akupun mulai memperbaiki diriku sedikit demi sedikit. Aku fokuskan pada tujunku yaitu menyelesaikan studiku di kampus ini dengan predikat Cumlaude.

Hari ini adalah hari persidanganku untuk mengujikan skripsi yang sudah kubuat kira-kira selama tujuh bulan yang lalu. Keringat dingin menjadi pingiring aku memasuki ruang persidangan ini, wajah ceria serta ramah yang biasa kutemui tak kutemui sekarang, wajah-wajah itu bagiku sangat membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Akan tetapi ketika pengumuman sore harinya, aku dinyatakan lulus dengan beberapa persyaratan untuk secepatnya memberikan revisi dari skripsiku. Jika aku dapat menyelesaikannya kurang dari satu bulan aku bisa wisuda bulan depan. Semangat itu membuat ku memacu untuk menyelesaikan revisi skripsiku agar aku cepat pulang ke Pekalongan.

Amanah-amanah organisasi intra pun sudah tak kupegang, baik itu organisasi masjid maupun organisasi lembaga dakwah kampus. aku melihat semangat pengemban estafet dakwah pada adik-adikku, semoga mereka lebih baik dari aku sendiri yang mungkin masih belum amanah untuk diberikan amanah. Hanya saja aku masih sering berada di organisasi internal kampus, untuk menyapa adik-adiku ataupun mengisi Mentoring.

Bulan ini adalah bulan yang sangat aku dan keluargaku tunggu-tunggu, 24 juni 2017 aku diwisuda dengan menyandang predikat Cumlaude. Campur aduk rasanya untuk merasakannya. Sambutan salam serta ucapan mengalir dari kedua orang tuaku, teman-teman ku, serta adik-adik di organisasiku.

Pada malam hari setelah wisuda aku memutuskan untuk meninggalkan kota tasik ini, karena masih ada amanah dari Allah untukku, yaitu menjaga kedua orang tuaku di usia senja nya. Buku-buku hingga baju mulai ku packing kedalam mobil. Hampir satu mobil penuh dengan barang-barangku selama beberapa tahun di kota Tasikmalaya. Perjalanan tasikmalaya- Pekalongan kira-kira membutuhkan waktu 8 hingga 9 Jam.

Sebelum kepindahanku aku pun sudah mengurus dan memindahan kelompok  mentoringku, walaupun rasanya berat meninggalkan mereka, karena mereka adalah sebagian kebahagiaan yang kupunya selama ini. Aku selalu berdoa semoga Allah dapat mempertemukan kita kembali.

Sebelum besok kami sekeluarga berangkat ke Pekalongan, malamnya aku mendapatkan pesan dari Ustazah untuk membuka email yang beliau kirimkan padaku. Setelah kubuka email itu ada CV dari seseorang yang kukenal namanya “Agung Muhammad Ilham” CV dari Kak Agung yang waktu dulu masuk bersamaku di Organisasi intra. Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu bahkan tahu tentang kabarnya. Hanya saja yang kudengar terakhir kali Kak Agung melanjutkan studinya ke Kota Malang. Aku tidak menyangka jika ka agung masih mengenalku, dan bahkan melamarku untuk menjadi istrinya. rasa haru, sedih dan bahagia campur menjadi satu.

Ustazah bilang bahwa Kak Agung akan langsung datang kerumahku setelah selesai sidang tesisnya besok lusa, beliau meminta doa padaku untuk dilancarkan sidang tesis hasil penelitianya.

Aku tidak menyangka rencana Allah lebih indah, besar, dan mulia. Bahkan apa yang terfikir berat dipundak hambanya akan terasa ringan jika Allah yang berkehendak. Karena Jodoh dan kematian hanya milik Allah semata.

______SELESAI______

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2017 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2017 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
CreamPemutih Kanan