Tutup Iklan
hijab
Ketika Menghadapi Hari Tanpa Jeda

Ketika Menghadapi Hari Tanpa Jeda

Dika Mustika
23 Mei 2018
Dibaca : 114x

Pernahkah kau mengalami hari (seakan) tak berjeda? Ketika bangun dengan tergesa karena bangun terlalu siang. Bangun terlalu siang pun bukan tanpa alasan. Bangun terlalu siang akibat tidur pun terlalu larut. Bukan larut lagi malah, baru bisa tidur setelah dini hari. Dalam rutinitas pagi yang tergesa-gesa, sarapan pun tak sempat kau lakukan. Langsung berangkat ke kantor dengan setumpuk berkas yang baru beres kau kerjakan di dini hari tadi. Kemarin, kau baru pulang kantor pun setelah matahari tenggelam dan bulan bertengger di langit malam dengan anggunnya. Bulan menjadi saksi kepayahan tubuhmu ketika pulang kantor. Meeting kemarin baru selesai selewat magrib. Lagi-lagi dengan tergesa kau pun pulang. Bukan pulang untuk tidur cantik. Namun pulang dengan membawa setumpuk PR. PR yang hanya diberi waktu pengerjaan satu malam. Dan itu artinya, bayangan tidur cantik harus kau singkirkan (dulu).

Ok, kembali ke pagi ini. pagi yang membawamu harus setengah berlari menuju finger machine. Mesin yang menjadi saksi bisu ketika kamu datang di pagi hari dan pulang di malam harinya. Mesin yang bisa melihat ekspresi jujurmu ketika kau memulai dan mengakhiri hari-harimu di kantor. Ternyata dengan setengah berlari tak juga mampu membawamu ke dalam kumpulan karyawan yang datang tepat waktu (hari itu). Ok, the show must go on....tak lama lagi saatnya mempresentasikan PR-PR mu di depan kepala-kepala bagian. Dengan tenaga seadanya karena tak sempat sarapan, kau pun mulai mempresentasikan PR. Dan akhirnya meeting itu pun berakhir sekitar waktu makan siang. Dengan gesit kau pun menuju kantin untuk mengisi energimu yang sudah menipis. Lega akhirnya bisa mengisi energi. Di tengah mencoba mengisi energi, ada panggilan dari bos untuk survei tempat acara di luar kantor. Mobil kantor ternyata sudah menunggu di parkiran, tinggal menunggu dirimu saja. Tak ada pilihan lain akhirnya dengan setengah hari harus rela meninggalkan separuh gado-gado yang sedang kau santap di meja kantin. Dengan berlari kau kemasi barang-barangmu lalu masuk ke mobil.

Akhirnya tiba di lokasi acara kantor yang ternyata adalah lapangan rumput ruas (dan terik). Setelah mengurusi perizinan untuk penggunaannya, kau pun kembali lagi ke kantor. Di sana sedang dilakukan evaluasi dari meeting yang paginya kau presentasikan. (Seakan) tak ada pilihan lagi kau pun menghadiri dan terlibat penuh di meeting tersebut karena itu bagian dari tanggung jawabmu (sebagai karyawan). Waktu menunjukkan pukul 7 malam. Kepala pening, perut terasa perih, keringat dingin...kau lalu ingat hanya setengah piring gado-gado yang kau pakai sebagai energimu hari itu.  Dan kau hanya bisa mendengarkan tindak lanjut dari hasil meeting evaluasi hari itu. Meeting belum sampai ujung, kau ingat betul karena ini bukan kali pertama. Akankah kau memilih ini terus? Akankah kau tetap ada di dalam kantor ini terus? Mengulang ketergesa-gesaaan dari hari ke harinya? Mengulang hanya bisa mengisi energi dengan setengah piring makananmu? Akankah kau memilih hari tanpa jeda ini menjadi pilihan hidupmu seterusnya? Atau....kau punya pilihan lain? Ingat hidup hanya sekali, hari tanpa jedakah yang akan menjadi pilihan untuk hari-harimu seterusnya?

#Tagar Berita

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2018 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2018 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
SabunPemutih