Riam Air Merah, Sungai Nil-nya Kalimantan Barat

Riam Air Merah, Sungai Nil-nya Kalimantan Barat

Maman Soleman
24 Maret 2018
Dibaca : 892x

Ngabang adalah kota kecil di pedalaman Kalimantan Barat, ibukota kecamatan di Kabupaten Sanggau. Kota kecil ini menjadi pusat keramaian sehari-hari. Seakan terminal persinggahan bagi yang datang dari Pontianak ke daerah pedalaman, atau sebaliknya.

Beberapa kota kecil di sekitarnya, banyak menggunakan nama-nama kota di Pulau Jawa, seperti Salatiga, Tanjung, Salam, dan yang lainnya lagi. Bertengger di kaki bukit di tepian Sungai Landak. Hawanya sedang-sedang saja, berada 90 meter di atas permukaan laut. Jalanannya telah pula dibenahi.

Menurut asal-muasal cerita, di sini pernah berdiri kerajaan, dibangun bangsawan asal Jawa, berdarah Majapahit. Sisa bangunan keraton masih ditemukan di Kampung Raya, Ngabang. Sejauh 176 Km dari Pontianak. Hanya tiga setengah jam perjalanan. Bisa juga menyusuri Sungai Landak, tetapi agak lebih jauh 75 Km.

Kota kecil ini semakin dikenal, konon setelah ditemukan Pudi, yaitu intan bermutu tinggi, terkenal sampai ke Singapura dan Malaysia. Di hutan-hutan sekitarnya terdapat berbagai jenis binatang, antara lain landak. Oleh karena itu, populer dengan sebutan Kerajaan Landak. Inilah sebabnya Ngabang pun disebut Kota Intan Landak.

Berpenduduk 75% suku Dayak sedangkan selebihnya pendatang, di Ngabang sering terdengar bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari, padahal rata-rata penduduknya berkulit kuning dengan alis tebal, mirip Cina. Dari penggunaan bahasa Jawa itu memperbesar dugaan, benar-benar dulunya Kerajaan Landak di bawah kekuasaan keturunan Majapahit, konon bernama Pulang Palih. Terkenal sakti, tegas dan agung.

Desa Munggu merupakan pintu gerbang berbagai objek wisata alam. Lebih ke utara menuju Riam Pulau, disebut juga Pulau Krikil. Pulau di tepi sungai itu, ramai dikunjungi penduduk Ngabang di hari-hari tertentu, terutama akan memancing udang.

Kurang lebih 200 meter dari Riam Pulau terdapat Riam Sepat. Disebut begitu karena bentuk batu yang melintang di sungai itu mirip ikan sepat. Di balik batu inipun banyak penduduk mencari ikan dan udang, seperti halnya di Riam Pulau.

Riam Pauh yang juga disebut Batu Berjemur seakan berada di tengah-tengah pepohonan rindang. Seluas kurang lebih 2 Ha wilayahnya dijadikan taman wisata alam. Di hari libur, dijadikan arena camping oleh para pelajar sambil berburu burung dan mencari ikan. Batunya, seakan berwarna-warni: merah, biru, bahkan kuning. Berair jernih.

Di sekitar riam ini ada bagian yang disebut Riam Sebebat. Dipercayai sebagai lokasi sakral, konon tempat upacara tertentu seperti menolak bala ataupun memohon berkah agar berhasil dalam musim panen. Upacara sakral itu biasanya dilakukan setiap bulan Safar, pada hari Rabu minggu terakhir.

Ada pula Riam Air Merah. Air sungai ini berwarna merah seperti darah segar. Sekilas mengingatkan kita ke zaman Nabi Musa. Air sungai Nil merah dibuat olehnya. Seperti itulah di riam yang berukuran pendek ini. Lebih kurang 750 meter dari Riam Pulau. Di sana terdapat sebuah bendungan alami setinggi 4 meter dari permukaan sungai. Di sana "air darah" itu mengalir dengan derasnya.

Ada cerita menarik mengenai "air darah" ini. Pada zaman dahulu, seorang putri kerajaan Cina, bernama Kie Lan Samsoe cantik, kalah perang. Lalu melarikan diri ke arah sungai ini. Tubuhnya tertusuk panah, meneteskan darah terus-menerus. Ia berusaha menyembunyikan diri sambil bertapa.

Akhirnya sang putri meninggal dunia di sungai itu. Konon inilah yang menyebabkan sampai sekarang warna airnya tetap merah seperti darah. Setiap hari besar Cina, ramai dikunjungi. Bahkan menjadi pusat kegiatan keagamaan pada hari-hari tertentu.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2020 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2020 GueBanget.com
All rights reserved