Tenganan, Desa Kecil di Bali yang Masih Asli dan Unik

Tenganan, Desa Kecil di Bali yang Masih Asli dan Unik

Maman Soleman
8 Des 2017
Dibaca : 1049x

Satu kilometer dari pantai Candi Dasa, terdapat Desa Tenganan, obyek wisata yang dianggap paling unik di bilangan Bali bagian timur. Untuk mencapai desa ini bisa menggunakan mini bis langsung dari Candi Dasa. Atau jalan kaki sebentar ke pertigaan Candi Dasa - Karang Asem - Tenganan dan dari sana pejalanan diteruskan ke Desa Tenganan dengan menggunakan ojek.

Orang Bali yang tinggal di Desa Tenganan menamakan diri mereka orang Bali Aga. Merekalah orang Jawa yang pindah ke Bali sebelum pengaruh Hindu dari Kerajaan Majapahit merambah pulau ini. Seperti kita tahu bangkitnya Majapahit pada masa silam sempat mengakibatkan pengaruh Hindu menyebar ke hampir seluruh Nusantara. Tak terkecuali ke pulau Bali. Pada saat itu banyak utusan Majapahit yang tinggal di sana. Ketika jaman keemasan Majapahit mulai pudar terjadilah perpindahan massal  penduduk Jawa ke pulau Bali. Sebagian kita kenal sebagai orang Bali saat ini.

Sebenarnya, Desa Bali Aga terdapat di tiga lokasi. Satu di daerah Trunyan, di tepi Danau Batur. Kemudian yang kedua terdapat di daerah Sembiran, dekat Singaraja di daerah utara Pulau Bali dan terakhir di Desa Tenganan di Kecamatan Karang Asem, daerah Bali timur.

Nama bisa sama tapi kebudayaan ketiga desa Bali Aga berbeda. Dalam upacara penguburan misalnya. Untuk orang Bali Aga yang tinggal di daerah Trunyan, bila seorang penduduk desa meninggal jasadnya tidak dibakar atau dikubur. Jenasah tersebut diberi balsem agar tidak bau dan kemudian diletakkan di balai-balai di daerah pemakaman dan dibiarkan begitu sampai tinggal tulang belulang saja. Sedangkan orang Bali Aga di daerah Sembiran mempunyai cara yang lebih unik. Orang yang meninggal akan diikat di tebing sungai di ternpat pemakaman, sampai jasad membusuk dan tinggal tulang belulang. Terakhir, orang Bali Aga dari Tenganan akan menguburkan jenasah orang-orang yang meninggal. Terlebih dahulu jenasah dimandikan sebelum dibawa ke tempat pemakaman. Kemudian jenasah dikuburkan dengan posisi telungkup, sedang kepala menghadap ke selatan. Jenasah tersebut harus telanjang tanpa sehelai benang pun. Penduduk desa Tenganan menganggap (dan orang Bali pada umumnya) manusia lahir (datang dari Tuhan) telanjang, tidak membawa apa-apa dan demikian pula bila ia mati (menghadap Tuhan) ia pun harus telanjang.

Perbedaan antara ketiga desa Bali Aga tersebut tampak pula dari pengkultusan salah satu dewa yang merupakan salah satu manifestasi sifat Sang Hyang Widhi Wasa. Untuk orang Bali Aga dari daerah Trunyan, Dewa Bayu merupakan dewa yang terpenting buat mereka. Penduduk Bali Aga di Sembiran mengkultuskan Dewa Kata (Betara Kala/Syiwa), sedang orang Bali Aga yang tinggal di desa Tenganan mengkultuskan dewa Indra.

Desa Tenganan merupakan desa kecil dengan luas kira-kira satu hektar. Di sekeliling desa terdapat pagar batas desa yang dahulunya terbuat dari terakota dengan daerah luar dengan empat pintu masuk. Pintu selatan, timur, barat dan pintu utara. Sekarang pintu utara ditutup dan dipindah agak ke samping agar lebih praktis untuk para turis.

Arsitektur serta lansekap rumah penduduk Bali Aga berbeda dengan arsitektur penduduk Bali lainnya. Rumah penduduk pada umumnya mempunyai pagar berdinding tinggi yang sekaligus merupakan dinding rumah. Di dalamnya terdapat bangunan kecil yang saling berdekatan - lain halnya dengan rumah Bali pada umumnya yang agak berjauhan - yang mempunyai fungsi seperti ruang di perumahan modern. Bangunan untuk dapur berbeda letaknya dan bangunan untuk tidur. Untuk kerja atau bersantai mereka pada umumnya akan menggunakan ruang yang agak kosong di sela-sela bangunan. Penasaran? Yuk berkujung ke Tenganan Bali!

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Terpopuler
Polling
Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2019-20124
Foto Selebriti
#Tagar
Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2019 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2019 GueBanget.com
All rights reserved