Tutup Iklan
powerman
Anda Seorang Penyelam? Kenali Gejala dari Barotrauma

Anda Seorang Penyelam? Kenali Gejala dari Barotrauma

Zeal
10 Maret 2018
Dibaca : 723x

Tak sedikit dari kita yang sering berlibur ke tempat-tempat yang banyak melakukan aktivitas menyelam. Namun kita perlu tahu, bahwa biasanya para penyelam akan mengalami gangguan telinga yang sering disebut dengan Barotrauma. Meskipun pada umumnya sering terjadi, tapi kita jangan menyepelekan barotrauma ini. Lantas apa itu Barotrauma?

dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, pernah menuliskan dalam klikdokter, bahwasnya Barotrauma merupakan gabungan dari kata baro dan trauma. Baro ialah segala yang berhubungan dengan tekanan, dan trauma berarti cedera. Dengan kata lain, barotrauma ialah cedera pada telinga yang terjadi akibat adanya perubahan tekanan.

Pada dasarnya telinga kita terdapat sebuah saluran, dimana saluran ini menghubungkan bagian telinga tengah dengan bagian hidung dan tenggorokan, yang tak lain ialah tuba eustachius. Salah satu fungsi dari saluran ini ialah membantu mengatur tekanan udara pada bagian telinga. Ketika saluran ini mengalami penyumbatan, maka saat itulah kita sedang mengalami barotrauma.

Barotrauma mempunyai tingkatan-tingkatan tersendiri. Yang paling ringan ialah barotrauma yang kadang tidak kita sadari, seperti saat kita berkendara ke dataran yang lebih tinggi. Saat itu pastinya kita akan merasakan telinga seperti memekak, kemudian terasa berbunyi “plop” ketika menguap ataupun menelan ludah. Pun juga ketika kita berada di dalam pesawat, yakni ketika lepas landas ataupun sedang mendarat. Barotrauma.dalam tingkatan ringan ini memang tidak berbahaya. Namun, ketika hal itu terjadi secara berulang-ulang, maka tidak menutup kemungkinan hal itu akan menimbulkan beberapa konsekuensi yang lebih serius lagi, dan ada baiknya kita segera mengenali gejala dari barotrauma yang sudah kronik atau terjadi berulang-ulang. Dengan begitu kita akan segera mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.

Lantas bagaimana gejala dari barotrauma yang sudah kronik?

dr. Astrid Wulan Kusumoastuti kembali menjelaskan, sebelum mengetahui gejala dari barotrauma kronik, ada baiknya kita mengetahui bahwa tingkat keparahan barotrauma dipengaruhi oleh kedalaman dan kecepatan penyelaman.

Menurut kaca mata ilmu fisika, perubahan tekanan udara yang terjadi pada telinga sebenarnya diakibatkan oleh adanya perubahan gravitasi, hal itu pun menyebabkan udara menjadi terkompresi ataupun justru malah mengembang. Adapun perubahan gravitasi ini tentunya akan berbanding terbalik dengan jarak kita dari pusat bumi. Dengan kata lain, semakin jauh dari pusat bumi, maka semakin kecil gravitasi, dan semakin dekat kita ke inti bumi, maka akan semakin besar pula gaya gravitasi yang ada sekitar kita.

Pun juga dalam menyelam, jika jarak penyelaman semakin dalam, maka akan besar pula gaya gravitasi di sekitar penyelam, akibatnya udara yang di telinga bagian tengah akan terkompresi, dan menjadi lebih padat. Kemudian, ketika penyelam kembali ke permukaan, maka udara di dalam bagian telinga tengah tersebut akan kembali mengembang, dimana hal itu tentunya dipengaruhi oleh gaya gravitasi yang ada disekitar penyelam.

Sebenarnya perubahan tekanan ini tidak akan menimbulkan masalah apabila dalam kecepatan menyelam yang dianjurkan itu sesuai dengan standar penyelaman. Maka tak heran, kita akan selalu diarahkan untuk mematuhi aturan tertentu saat hendak menyelam, salah satunya ialah seberapa cepat seorang penyelam boleh turun ataupun naik ke permukaan, aturan tersebut tentunya bertujuan agar kondisi tubuh kita tetap baik. Namun pada faktanya dilapangan, standar ini selalu tidak terpenuhi, sehingga penyelam pun berisiko mengalami berbagai gangguan karena perubahan tekanan yang ekstrem, yang tak lain ialah barotrauma.

Mengenai gejala dari barotrauma sendiri, terdapat variasi sesuai dengan tingkatannya, mulai dari tingkatan ringan hingga kronis. Pada mulanya, gejala barotrauma ditandai dengan telinga yang terasa memekak, kemudian disertai dengan berkurangnya kemampuan pendengaran, terkadang juga sampai mengalami sakit kepala atau vertigo.

Pada tingkatan yang kronis, gejala tersebut pun berlanjut dengan rasa nyeri yang hebat pada telinga, mimisan, rusaknya gendang telinga, bahkan pada beberap kasus sampai mengalami tuli. Pada kondisi tersebut, tubuh pun akan mengkompensasi terjadinya barotrauma, yakni dengan menarik cairan dari darah, lalu mengeluarkannya di telinga bagian tengah guna menyeimbangkan perbedaan tekanan udara yang terjadi kala itu. Kondisi ini pun berisiko terjadinya kerusakan pada bagian tuba eustachius dan gendang telinga, hingga pada tahap selanjutnya akan keluar darah dari telinga. Gejala barotrauma ini akan meningkat jika seseorang tengah mengalami faktor risiko lainnya misalnya alergi, flu, ataupun infeksi pada telinga.

Maka dari itu, jika kita hendak menyelam, terlebih lagi seorang pemula, maka hendaknya kita mentaati setiap regulasi yang ada terkait keamanan. Pun juga hendaknya kita selalu mematuhi arahan dari instruktur guna menjaga tubuh agar tetap sehat.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2019 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2019 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
JusKulitManggis