Tutup Iklan
Tryout.id
Ini Loh Batasan Suami Menafkahi Istri, Kamu Udah Tahu?

Ini Loh Batasan Suami Menafkahi Istri, Kamu Udah Tahu?

Zeal
9 Feb 2018
Dibaca : 5402x

GueBanget.com - Ajaran Islam memang sempurna. Betapa tidak, Islam banyak mengatur segala urusan manusia, mulai dari hal kecil sampai hal yang besar, termasuk pula pernikahan. Dalam pernikahan ini, Islam pun merinci sampai nafkah suami yang harus diberikan kepada istri. Pada dasarnya Menafkahi istri hukumnya adalah wajib bagi sumai. Namun seringkali suami istri malah adu mulut mengenai besaran nafkah yang harus diberikan suami dan diterima oleh istri.

Lantas bagaimana Islam memandang hal ini?

Kewajiban nafkah memang telah dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 233, sebagaimana Alloh SWT berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf”. (QS. Al-Baqarah : 233).

Ayat diatas menjelaskan bahwa kewajiban suami memberi nafkah berupa makanan dan pakaian kepada istri tersebut dilakukan secara makruf. Makruf disana bisa diartikan dengan perbuatan baik yang bernilai ibadah dan disyari’atkan oleh Islam. Makruf juga dapat diartikan sebagai suatu kebaikan yang bersifat lokal, artinya disesuaikan dengan situasi dan kondisi atau lebih tepatnya disesuaikan dengan kebutuhan yang dalam hal ini kebutuhan masing-masing tiap keluarga.

Lantas berapa ukuran nafkah seharusnya?

Mengenai Ukuran nafkah ini pada intinya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (Ath-Thalaaq : 7).

Maksud dari “menurut kemampuannya” dari ayat diatas ialah Sesuai dengan kemampuan suami, dimana suami wajib memberikan nafkah kepada istri sesuai dengan kelapangan rezeki yang Allah berikan kepada sumai. Artinya Ukuran kemampuan ialah hasil suami yang paling maksimal dari usaha yang maksimal pula. Ketika suami telah berusaha secara sungguh-sungguh dan sesuai kemampuan terbaiknya, maka hasil tersebut merupakan ukuran dari kemampuan suami untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarganya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda tentang hak seorang istri:

“Engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajahnya, tidak menjelek-jelekkannya, dan engkau jangan meninggalkan melaikan di dalam rumah HR Abu Dawud 2142, Ibnu Majah 1850, dishahihkan oleh al-Hakim)

Dari hadits diatas, dapat kita ambil pemahaman, bahwa apapun yang dimakan dan dipakai oleh suami harus sama dengan istri. Artinya tak ada ukuran yang pasti mengenai nafkah yang harus diberikan suami kepada istri.

Namun menurut pendapat ulama lainnya bahwa nilai dari nafkah itu tergantung kesepakatan suami dan istri, dimana Mazhab Hanafiyah, Malikiyah dan sebagian As Syafi’iyah dan juga sebagian madzab Hanabilah berpendapat bahwa tidak ada sama sekali standarisasi mengenai pemberian nafkah pada istri, mengenai besarannya ditentukan berdasarkan unsur kepantasan atau kecukupan saja. Merek menafsirkan surat Al Baqarah ayat 233 mengenai pemberian nafkah istri dengan nilai makruf, yang artinya “secukupnya” atau “sepantasnya”.

Pendapat lainnya dari Mazhab Asy-Syafi’iyah secara muktamad, juga pendapat dari Al Qadhi yang merupakan kalangan Mazhab Hanabilah berpendapat bahwa ukuran pemberian nafkah adalah ukuran bahan makanan pokok yang diberikan sumai pada istri perharinya. Ada pula Ulama bermazhab Asy-Syafi’iyah yang berpendapat bahwa nafkah sumai itu jika disamakan dengan zaman sekarang, seperti halnya UMR (Upah minimum regional) yang ditetapkan oleh pemerintah pada para pengusaha. Selain ada pula Sebagian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa diseuaikan dengan adat dan kebiasaan daerah masing-masing. Karena tentunya kebutuhan tiap daerah akan berbeda dengan daerah lain.

Intinya dalam masalah nafkah ini tidak ada ukuran yang jelas yang ditentukan oleh Syara’, semuanya ditentukan berdasarkan kemampuan suami, dan diberikan kepada istri secara makruf.

Artikel Terkait

Artikel Lainnya

Berita Netizen Terupdate
Copyright © 2019 GueBanget.com - All rights reserved
Copyright © 2019 GueBanget.com
All rights reserved
Tutup Iklan
Hijab