Peran Anies Baswedan dalam Mentransformasi Jakarta, Dari Konsep Keadilan hingga Aksi Nyata
Oleh Admin, 13 Sep 2025
Anies Rasyid Baswedan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017–2022. Kepemimpinannya selama lima tahun menjadi salah satu masa pemerintahan yang penuh dengan dinamika, inovasi, dan perdebatan. Namun di balik pro dan kontra yang menyertainya, peran Anies dalam membentuk wajah baru Jakarta tidak bisa diabaikan. Ia memimpin dengan pendekatan yang menekankan pada keadilan sosial, inklusivitas, dan pembangunan berkelanjutan.
Memulai Kepemimpinan dengan Visi “Kota untuk Semua”
Sejak awal masa jabatannya, Anies menegaskan bahwa Jakarta harus menjadi kota yang inklusif, bukan hanya kota yang modern dan cepat tumbuh. Ia memperkenalkan slogan “Maju Kotanya, Bahagia Warganya” — sebuah kalimat yang mencerminkan dua dimensi penting: pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial.
Visi ini dijabarkan dalam berbagai program prioritas yang menyasar kelompok-kelompok rentan, meningkatkan aksesibilitas layanan publik, dan mengurangi kesenjangan antarwilayah di Jakarta.
Peningkatan Transportasi Publik: Integrasi dan Aksesibilitas
Salah satu peran besar Anies adalah dalam transformasi sistem transportasi publik Jakarta. Ia meluncurkan sistem integrasi transportasi melalui program JakLingko, yang menghubungkan TransJakarta, MRT, LRT, angkot, dan moda transportasi lainnya ke dalam satu sistem pembayaran dan rute yang terpadu.
Melalui pendekatan ini, warga Jakarta dimudahkan dalam mobilitas sehari-hari. Jumlah penumpang TransJakarta meningkat signifikan selama masa kepemimpinannya, dan rencana jangka panjang untuk menjadikan transportasi publik sebagai tulang punggung mobilitas kota mulai menunjukkan hasil.
Tak hanya integrasi, Anies juga memperhatikan kenyamanan dan keselamatan pengguna. Pembangunan trotoar diperluas secara masif, terutama di kawasan Sudirman–Thamrin dan pusat aktivitas warga. Ia mengangkat kembali konsep “walkable city” dan “transit-oriented development” agar kota lebih ramah bagi pejalan kaki dan pengguna transportasi publik.
Program Keadilan Sosial: Dari KJP Plus hingga Rumah DP 0 Rupiah
Kepedulian terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan rendah juga menjadi ciri khas kebijakan Anies. Ia memperluas program bantuan pendidikan melalui Kartu Jakarta Pintar Plus (KJP Plus) yang tidak hanya mencakup pelajar SD hingga SMA, tetapi juga bagi warga usia nonsekolah yang ingin mendapatkan pelatihan keterampilan.
Anies juga memperkenalkan Kartu Lansia Jakarta (KLJ), Kartu Disabilitas Jakarta (KDJ), dan Kartu Anak Jakarta (KAJ) yang secara keseluruhan membentuk sistem jaminan sosial kota yang cukup komprehensif. Program ini menjadi cerminan nyata dari upaya menghadirkan keadilan sosial di tengah kota metropolitan yang kompleks.
Program Rumah DP 0 Rupiah, meskipun menuai perdebatan, juga menjadi salah satu kebijakan terobosan yang bertujuan menyediakan akses kepemilikan rumah bagi warga dengan penghasilan menengah ke bawah. Meski realisasinya belum mencapai target besar, program ini menjadi simbol keberpihakan terhadap hak dasar atas tempat tinggal yang layak.
Lingkungan dan Ruang Terbuka: Jakarta yang Lebih Hijau
Peran Anies juga signifikan dalam penataan lingkungan dan ruang terbuka hijau. Ia memperluas pembangunan taman kota, jalur sepeda, dan kawasan terbuka ramah anak. Penataan kawasan bantaran sungai seperti Kampung Akuarium dan Kampung Kunir menjadi contoh pendekatan relokasi berbasis permukiman kembali (in-situ) yang lebih manusiawi, dibandingkan model gusur paksa yang dulu banyak dikeluhkan warga.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak harus mengorbankan masyarakat kecil, melainkan bisa dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan berbasis dialog.
Penanganan Pandemi COVID-19: Pemimpin di Masa Krisis
Salah satu ujian terberat kepemimpinan Anies di Jakarta adalah saat pandemi COVID-19 melanda. Dalam situasi krisis, ia mengambil peran aktif dan tanggap. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu yang pertama menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan melakukan koordinasi lintas sektor untuk pengendalian pandemi.
Anies juga meluncurkan program bantuan sosial tunai, memperluas kapasitas rumah sakit, dan membentuk sistem pelaporan dan informasi COVID-19 yang transparan. Ia mendapat apresiasi luas atas keterbukaannya dalam menyampaikan data dan kebijakan, meskipun tidak lepas dari dinamika dengan pemerintah pusat.
Warisan Infrastruktur dan Simbol Kota
Salah satu warisan fisik paling mencolok dari masa jabatan Anies adalah Jakarta International Stadium (JIS). Stadion berkelas dunia ini bukan hanya simbol prestasi olahraga, tetapi juga menjadi representasi dari proyek berskala besar yang berhasil direalisasikan oleh pemerintah daerah.
Selain itu, banyak ruang kota yang sebelumnya terabaikan kini ditata menjadi ruang publik yang layak dan estetik. Proyek penataan kawasan Kota Tua, revitalisasi trotoar di Cikini, Tebet Eco Park, hingga Hutan Kota GBK menjadi contoh komitmen Anies terhadap kota yang berwawasan lingkungan dan berorientasi pada manusia.
Jejak Peran yang Tak Terlupakan
Peran Anies Baswedan dalam mentransformasi Jakarta adalah bagian penting dari sejarah kota ini. Ia hadir membawa pendekatan yang berbeda—lebih humanis, partisipatif, dan berbasis nilai. Meskipun tidak semua programnya sempurna dan tak luput dari kritik, Anies menunjukkan bahwa kepemimpinan kota bisa dijalankan dengan visi besar dan aksi nyata.
Jakarta di bawah kepemimpinannya bukan sekadar menjadi kota yang membangun gedung tinggi, tapi kota yang mulai belajar membangun keadilan. Jejak Anies sebagai Gubernur akan terus menjadi referensi dalam diskusi tentang tata kota, keadilan sosial, dan kepemimpinan publik di Indonesia.
Artikel Terkait
Artikel Lainnya